Budaya
Ga lama lagi adik iparku mau menikah, kira-kira maret insyaallah. Mulai deh kita-kita yang merasa lebih tua mulai deh sibuk rapat, atur sana-atur sini uji coba kali ya siapa tau bentar lagi anak-anak kita mau nikah kan dah pengalaman gitu loh.
pas lagi buat draft acara, karena di masjid kita ga dikasih waktu banyak, rencananya mau ada acara injak telur, pokoknya masih ada lah sisa-sisa budaya jawa yang berusaha kita lestarikan. tapi berhubung waktu yang dikasih dari pihak gedung sangat terbatas jadi digagalkan deh acara adat nya.
sebetulnya saya mengusulkan kalau ngga bisa digedung, kenapa ga dilaksanakan dirumah pas acara lamaran. saat lamaran adalah sehari sebelum akad nikah, jadi bisa aja sorenya diadakan prosesi siraman jadikan masih ada adat yang dilakukan. sebetulnya saya ga terlalu kenal sekali dengan adat budaya jawa, tapi kalau dilihat filosofinya proses siraman itu kan merupakan perlambang, karena budaya jawa banyak sekali menggunakan perlambang, jadi ga bisa dilihat secara kasat mata biasa. sayangnya usulan saya ditolak dengan berbagai alasan, dari yang repot cari ahlinya, ga penting lagi, ga ada relevansinya, sampai alasan standar buang-buang biaya aah..
Prosesi siraman itu sendiri menurut saya adalah melambangkan kasih sayang orang tua, kakek nenek bude pakde yang kita anggap sesepuh untuk ikut mendoakan kita melalui doa yang disampaikan pada saat menyiramkan air kepada calon pengantin. saya sedih juga kenapa adat istiadat kita sendiri dari budaya Jawa walau sedikit ga mau di pakai lagi
kalau tiap keluarga sudah seperti ini ga heran kalau makin banyak budaya asli Indonesia banyak yang diaku negara lain.. ah sedihnya..
